Melihat 1 Tahun Ke Belakang
Kami memulai #ProyekDIRA ini tepat 52 Minggu yang lalu. Berbeda dengan sebagian besar perusahaan yang tahun fiskalnya bersamaan dengan tahun kalender Masehi (Januari-Desember), kami menggunakan periode tahun fiskal antara April-Maret (jika anda familiar dengan perusahaan-perusahaan dari Jepang, banyak yang mengadopsi sistem serupa). Kami kan bukan perusahaan, hanya proyek investasi kecil-kecilan dan menggunakan dana milik keluarga kami sendiri. Jadi bebas ya, tidak harus sama dengan perusahaan besar lainnya hehehe.
Berangkat dengan modal awal sebesar 50 Juta Rupiah, awalnya kami hanya investasikan dana tersebut ke beberapa saham yang kami anggap bisa memberikan imbal hasil yang cukup memuaskan di masa depan. 5 saham pertama yang kami beli adalah ASII, BBCA, ICBP, UNVR, dan WSKT.
Di tengah perjalanan, kami beruntung masih dapat menyisakan sebagian penghasilan yang kami dapat setiap bulannya, untuk dimasukkan sebagai modal tambahan ke dalam #ProyekDIRA ini. Selain 50 Juta Rupiah modal awal, kami telah menyuntikkan modal tambahan sebesar 120 Juta Rupiah sepanjang Tahun Fiskal 2019 kemarin, sehingga secara total kami telah menginvestasikan 170 Juta Rupiah tahun ini. Selain 5 saham di atas, kami juga investasikan sebagian modal tambahan tersebut ke saham BBRI & PWON. Selain itu, kami juga melakukan diversifikasi dengan menginvetasikan sebagian dana kami ke dalam platform pinjaman P2P (Peer to Peer).
Ada beberapa startup yang menyediakan platform pinjaman P2P, namun kami memilih Amartha. Kami suka dengan Amartha karena target pendanaan yang mereka salurkan adalah UMKM di berbagai daerah di Indonesia, seperti pengrajin kerajinan tangan, petani, pedagang sayuran, pemilik warung makan dsb. Jumlah pendanaan yang disalurkan juga cukup kecil, berkisar antara 3–6 Juta Rupiah, yang kemudian dicicil oleh peminjam setiap minggu selama 50 minggu. Imbal hasil yang ditawarkan Amartha juga cukup menarik.
Saat ini, kami baru mengalokasikan 15 Juta Rupiah ke platform pinjaman P2P, atau hanya sebesar 8.8% dari total modal kami. Ke depannya, kami ingin tingkatkan lagi alokasi dana untuk pinjaman P2P menjadi maksimal 20%.
Performa Investasi
Mari kita mulai dari saham terlebih dahulu. Saham menawarkan dividen (sebagian keuntungan dari kegiatan operasional perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham, umumnya dalam bentuk uang tunai), serta laba/rugi dari kenaikan/penurunan harga saham (Capital Gain/Loss).
Sepanjang tahun fiskal 2019, kami telah menerima dividen sebesar Rp 2,124,349 dari saham yang kami miliki. Atas dividen tersebut, dikenakan pajak sebesar 10%, atau Rp 212,435. Berikut rinciannya :
- Dari saham ASII sebesar Rp 342,869
- Dari saham BBCA sebesar Rp 162,000
- Dari saham BBRI sebesar Rp 790,550
- Dari saham ICBP sebesar Rp 137,000
- Dari saham UNVR sebesar Rp 327,000
- Dari saham WSKT sebesar Rp 364,930
Sementara itu, sejak awal tahun 2020 ini harga saham anjlok cukup signifikan akibat merebaknya virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemik penyakit COVID-19. Saham-saham yang kami miliki pun turun cukup dalam, dengan total rugi yang belum direalisasikan (Unrealized Loss) sebesar Rp -47,300,600. Berikut rinciannya :
- ASII turun Rp -9,105,500
- BBCA turun Rp -375,000
- BBRI turun Rp -4,474,000
- ICBP turun Rp -220,000
- PWON turun Rp -8,242,100
- UNVR turun Rp -5,822,500
- WSKT turun Rp -19,061,500
Kerugian ini tidak sebanding dengan kerugian dan resiko yang harus dihadapi oleh teman-teman di luar sana yang terdampak langsung oleh pandemik ini. Mari kita terus jaga kesehatan, dan patuhi anjuran untuk saling menjaga jarak dan mencuci tangan demi menahan laju penyebaran virus ini. Doa kami bersama para korban dan tenaga kesehatan yang sedang berjuang di luar sana.
Mewabahnya virus SARS-Cov-2 ini juga berdampak signifikan kepada para pengusaha di sektor riil, termasuk para penerima pendanaan via Amartha. Ada beberapa peminjam yang perlu menunda pembayaran cicilan karena sulitnya kondisi ekonomi saat ini. Dari pinjaman P2P yang telah kami berikan, pada tahun fiskal 2019 ini kami telah menerima imbal hasil sebesar Rp 971,200. Atas imbal hasil tersebut dikenakan pajak sebesar 15%, atau Rp 145,680.
Hal lain yang mempengaruhi performa investasi adalah biaya transaksi jual/beli saham. Semakin sering kami mengotak-atik portofolio & melakukan transaksi pembelian/penjualan, semakin tinggi pula biaya transaksi yang ditimbulkan. Karena itu kami berusaha sebisa mungkin menekan biaya ini karena dampaknya pun cukup signifikan dalam jangka panjang. Pada tahun fiskal 2019 kemarin, kami mengeluarkan biaya transaksi sebesar Rp 233,300 yang semuanya ditimbulkan dari pembelian saham.
Pendapatan lain yang dampaknya cukup kecil adalah bunga dari kas yang mengendap. Sepanjang tahun fiskal 2019 kemarin, kami mendapat bunga sebesar Rp 11,174, yang dikenakan pajak sebesar 20% atau Rp 2,236.
Berikut Laporan Neraca, Laba/Rugi, serta Daftar Aset, Kewajiban, & Laba/Rugi Saham yang Belum Direalisasikan sampai tanggal 29 Maret 2020. Laporan tersebut juga dapat diakses di sini.


Kami menggunakan IHSG sebagai acuan, semata-mata karena sebagian besar modal kami diinvestasikan pada instrumen saham. Dengan mengacu pada IHSG, kami bisa melihat bagaimana tren pasar saham secara umum untuk memahami fluktuasi pada nilai portofolio kami sendiri.
Dihitung sejak kami memulai #ProyekDIRA ini (awal April/2019), performa overall portofolio kami turun -27.29%, sedikit unggul di atas IHSG yang turun -29.73% pada periode yang sama.

Melihat Ke Depan
Kami bukan cenayang yang mampu meramal apa yang akan terjadi di masa depan. Namun jika melihat sejarah umat manusia pada umumnya, dan bagaimana Indonesia bisa bangkit dari bencana dan keterpurukan di masa lalu, saya yakin kita bisa menghadapi situasi sulit seperti ini, asalkan kita semua bisa bergotong-royong dan mau menyumbangkan tenaga, pikiran, sumber daya, apapun itu untuk membantu teman-teman kita yang terdampak.
Saya pernah membaca buku berjudul Antifragile: Things That Gain From Disorder karya Nassim Nicholas Taleb. Buku tersebut memperkenalkan saya dengan konsep bernama Antifragility. Berikut saya tuliskan kutipan dari Wikipedia tentang konsep tersebut.
Antifragility is a property of systems that increase in capability to thrive as a result of stressors, shocks, volatility, noise, mistakes, faults, attacks, or failures. It is a concept developed by Professor Nassim Nicholas Taleb in his book, Antifragile, and in technical papers. As Taleb explains in his book, antifragility is fundamentally different from the concepts of resiliency (i.e. the ability to recover from failure) and robustness (that is, the ability to resist failure).
Satu manusia bisa tumbang terkena virus dan cobaan hidup lainnya. Namun jutaan manusia yang bisa bekerja bersama-sama dapat membangun sistem yang tidak hanya kuat dan ulet, namun semakin bertambah kuat dari waktu ke waktu, berkat pengalaman dan pelajaran yang didapat, termasuk kondisi yang kita hadapi saat ini.
Jaga jarak. Jaga kesehatan.
Rizka & Ardhi
Leave a comment