#ProyekDIRA | Laporan Akhir Tahun Ke-2 (Minggu Ke-104)


Melihat Setahun ke Belakang

Sudah 2 tahun sejak kami memulai #ProyekDIRA 104 minggu yang lalu. Setelah pasar saham anjlok cukup dalam di bulan Februari hingga Maret tahun lalu, kami memasuki tahun ke-2 dengan sedikit cemas, karena di tengah pandemi seperti ini, kami tidak hanya khawatir soal kerugian portofolio investasi kami, tapi juga adanya kemungkinan kehilangan pekerjaan dan penghasilan, mengingat cukup banyak perusahaan skala kecil sampai besar yang harus gulung tikar dan melepaskan semua karyawannya.

Kami bersyukur karena di tengah situasi seperti ini, perusahaan tempat kami bekerja tidak sampai tutup, sehingga kami pun tidak sampai kehilangan pekerjaan. Kegiatan produksi di perusahaan tempat kami bekerja pun berangsur-angsur meningkat, meskipun belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi. Sempat ada kekhawatiran karena beberapa rekan kerja kami yang terinfeksi Covid-19. Namun kami beruntung memiliki rekan kerja yang peduli, yang selalu berupaya menjalankan protokol kesehatan (pakai masker, cuci tangan, jaga jarak) sehingga kami tidak sampai tertular dan masih sehat sampai sekarang.

Tahun lalu kami memangkas cukup banyak pengeluaran (kami bahkan tidak mudik, dan membatalkan semua rencana wisata). Selama tahun fiskal 2020 kemarin, kami dapat menyisihkan dana sebesar160 juta Rupiah dari penghasilan bulanan kami untuk dimasukkan ke dalam portofolio #ProyekDIRA. Dengan ini, kami sudah memasukkan dana total sebesar 330 juta Rupiah selama 2 tahun. Sejauh ini belum ada keperluan mendesak yang memerlukan dana besar, sehingga kami pun belum menarik dana sepeserpun dari portofolio #ProyekDIRA.

Dari 7 saham yang kami miliki per akhir tahun ke-1, kami sudah menjual saham WSKT. Tahun ini kami cukup aktif membeli saham baru, yakni ADMF, BJBR, PTRO, SRIL, WEGE, dan WIKA. Kami juga mulai investasi di obligasi melalui reksa dana ABF Indonesia Bond Index Fund (yang kami beli via IndoPremier) dan kami juga mulai menggunakan KoinWorks sebagai platform alternatif untuk pendanaan pinjaman P2P selain Amartha.

Performa Investasi

Mari kita mulai dari saham terlebih dahulu. Tahun ini adalah tahun yang cukup baik bagi pasar saham, karena sebagian besar harga saham sudah kembali naik, bahkan beberapa saham sudah pulih dan naik lebih tinggi dari level sebelum pandemi kemarin. Selama tahun fiskal 2020 kemarin, kami mencatatkan kenaikan laba/rugi yang belum direalisasikan (unrealized gain/loss) sebesar Rp +67,176,259. Berikut rincian laba/rugi yang belum direalisasikan dari tiap emiten saham, termasuk reksadana ABF Indonesia Bond Index Fund (dibanding posisi per akhir tahun ke-1).

  • ADMF naik Rp +2,515,000
  • ASII naik Rp +7,840,000
  • BBCA naik Rp +2,335,000
  • BBRI naik Rp +10,593,000
  • BJBR naik Rp +9,672,000
  • ICBP turun Rp -1,832,500
  • PTRO naik Rp +398,000
  • PWON naik Rp +11,591,700
  • SRIL naik Rp +1,383,000
  • UNVR turun Rp -1,075,000
  • WEGE turun Rp -5,615,200
  • WIKA naik Rp +10,689,000
  • WSKT* naik Rp +19,061,500
  • ABF Indonesia Bond Index Fund turun Rp -379,241

* Catatan terkait penjualan saham WSKT :

Pada tahun fiskal 2020 kemarin, kami melakukan 2x pembelian saham WSKT untuk averaging down hingga terkumpul 27,600 lembar saham dengan nilai total pembelian Rp 34,777,500. Pada tanggal 18 Desember 2020, kami jual semua saham WSKT pada harga Rp 1,485, sehingga kami dapat memulihkan unrealized loss WSKT yang kami catatkan pada akhir tahun ke-1 (Rp +19,061,500) dan merealisasikan keuntungan (realized gain) sebesar Rp +6,208,500.

Sepanjang tahun fiskal 2020 kemarin, kami menerima dividen sebesar Rp +3,248,589. Atas dividen tersebut, dikenakan pajak 10% atau sebesar Rp -324,859. Berikut rinciannya.

  • Dari saham ASII sebesar Rp +920,000
  • Dari saham BBCA sebesar Rp +331,800
  • Dari saham ICBP sebesar Rp +451,500
  • Dari saham SRIL sebesar Rp +53,800
  • Dari saham UNVR sebesar Rp +504,400
  • Dari saham WIKA sebesar Rp +891,712
  • Dari saham WSKT sebesar Rp +95,377

Kegiatan ekonomi yang mulai berangsur pulih juga nampak dari performa penerima pinjaman P2P. Setelah beberapa kali tersendat di pertengahan tahun 2020 kemarin, beberapa penerima pinjaman sudah kembali lancar membayarkan pokok & bunga pinjaman. Total selama tahun fiskal 2020 kemarin, kami menerima imbal hasil dari pinjaman P2P (via Amartha & KoinWorks) sebesar Rp +4,922,838. Atas imbal hasil tersebut dikenakan pajak 15% atau sebesar Rp -738,426.

Pendapatan dan biaya lainnya yang kami terima dan bayarkan selama tahun fiskal 2020 kemarin antara lain :

  • Biaya transaksi beli/jual saham sebesar Rp -353,249
  • Pendapatan lainnya berupa voucher promo dari Amartha sebesar Rp +300,000
  • Biaya asuransi pinjaman P2P via Amartha sebesar Rp -450,000
  • Pendapatan bunga dari kas yang mengendap sebesar Rp +8,887
  • Pajak atas bunga dari kas yang mengendap sebesar Rp -1,724

Berikut Laporan Neraca, Laporan Laba/Rugi, serta Daftar Aset, Kewajiban, & Laba/Rugi Saham yang Belum Direalisasikan sampai tanggal 28 Maret 2021. Laporan tersebut juga dapat diakses dalam format Google Sheets di sini.

Laporan Neraca & Laba/Rugi per tanggal 28 Maret 2021
Daftar Aset, Kewajiban, & Laba/Rugi Saham yang Belum Direalisasikan per tanggal 28 Maret 2021

Kami menggunakan IHSG sebagai acuan, semata-mata karena sebagian besar modal kami diinvestasikan pada instrumen saham. Dengan mengacu pada IHSG, kami bisa melihat bagaimana tren pasar saham secara umum untuk memahami fluktuasi pada nilai portofolio kami sendiri.

Dihitung sejak kami memulai #ProyekDIRA ini (awal April-2019), performa overall portofolio kami naik +1.44%, sedikit unggul di atas IHSG yang turun -4.22% pada periode yang sama. Namun perlu dicatat bahwa performa IHSG tersebut belum termasuk dividen.

Perbandingan Performa Historis #ProyekDIRA vs IHSG sampai tanggal 21 Maret 2021

Melihat Ke Depan

Salah satu mental model yang sering saya ingat adalah Mean reversion. Apapun itu yang terlalu ekstrem, akan kembali ke kondisi rerata normalnya. Seperti halnya saham, yang jatuh anjlok akan naik kembali, dan yang melambung tinggi pun akan turun kembali. Seperti disampaikan oleh Abraham Lincoln :

It is said an Eastern monarch once charged his wise men to invent him a sentence to be ever in view, and which should be true and appropriate in all times and situations. They presented him the words, “And this, too, shall pass away.” How much it expresses! How chastening in the hour of pride! How consoling in the depths of affliction! “And this, too, shall pass away.” And yet, let us hope, it is not quite true. Let us hope, rather, that by the best cultivation of the physical world beneath and around us, and the intellectual and moral world within us, we shall secure an individual, social, and political prosperity and happiness, whose course shall be onward and upward, and which, while the earth endures, shall not pass away.

Meskipun belum sepenuhnya pulih, namun kita bisa berharap bahwa kondisi ini akan segera selesai. Jumlah kasus positif baru dan jumlah pasien aktif berangsur turun, dan jumlah peserta vaksinasi harian terlihat sangat menjanjikan. Semoga rekan-rekan yang sempat kehilangan pekerjaan, terpaksa menutup kegiatan usahanya, atau yang tidak bisa pulang bertemu dengan keluarga, dapat kembali bekerja, berusaha, dan bertemu dengan keluarga.


Rizka & Ardhi

Comments

Leave a comment